insomnia yang dikaitkan dengan travelling
Clicks: 177
ID: 137987
2012
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Star Article
30.5
/100
177 views
40 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
StarRanked #19 of 40 articles by views in scandinavian journal of immunology
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fourth edition (DSMIV),
insomnia merupakan suatu keluhan yang dialami pasien berupa kesulitan dalam
memulai tidur, mempertahankan kondisi tidur (tidak terbangun), atau tidur yang tidak
menyegarkan selama 1 bulan atau lebih. Pada umumnya sekitar 35% orang dewasa
mengalami insomnia selama satu tahun, setengahnya merupakan insomnia berat.
Perbandingan terjadinya insomnia pada wanita dan pria adalah 1,5:1. Saat seseorang
bepergian jauh juga akan meningkatkan resiko terjadinya gangguan tidur karena adanya
perbedaan waktu antara daerah yang satu dengan lainnya. Hal ini sering disebut sebagai
jet lag. Pada intinya, jet lag merupakan akibat dari ketidaksesuaian yang terjadi setelah
melewati daerah dengan waktu yang terlalu cepat. Jet lag memiliki ciri ketidaksesuaian
yang sementara antara endogen sirkardian tidur/bangun dan lingkungan fisik eksternal
yang mengarah pada perubahan waktu. Hal ini dapat di terapi dengan mengatur kembali
ritme sirkardian baik itu dengan mengatur ulang ritme tidur seseorang maupun dengan
terapi farmakologis lain yang sesuai.
insomnia merupakan suatu keluhan yang dialami pasien berupa kesulitan dalam
memulai tidur, mempertahankan kondisi tidur (tidak terbangun), atau tidur yang tidak
menyegarkan selama 1 bulan atau lebih. Pada umumnya sekitar 35% orang dewasa
mengalami insomnia selama satu tahun, setengahnya merupakan insomnia berat.
Perbandingan terjadinya insomnia pada wanita dan pria adalah 1,5:1. Saat seseorang
bepergian jauh juga akan meningkatkan resiko terjadinya gangguan tidur karena adanya
perbedaan waktu antara daerah yang satu dengan lainnya. Hal ini sering disebut sebagai
jet lag. Pada intinya, jet lag merupakan akibat dari ketidaksesuaian yang terjadi setelah
melewati daerah dengan waktu yang terlalu cepat. Jet lag memiliki ciri ketidaksesuaian
yang sementara antara endogen sirkardian tidur/bangun dan lingkungan fisik eksternal
yang mengarah pada perubahan waktu. Hal ini dapat di terapi dengan mengatur kembali
ritme sirkardian baik itu dengan mengatur ulang ritme tidur seseorang maupun dengan
terapi farmakologis lain yang sesuai.
| Reference Key |
yanti2012e-jurnalinsomnia
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Erica Lidya Yanti |
| Journal | scandinavian journal of immunology |
| Year | 2012 |
| DOI |
DOI not found
|
| URL | |
| Keywords |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.