panggung bangsawan studi politik kebudayaan di daerah riau lingga: perspektif kajian budaya
Clicks: 184
ID: 233391
2012
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Popular Article
30.0
/100
184 views
37 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
PopularRanked #7 of 8 articles by views in social science journal
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Penelitian ini membahas “Panggung Bangsawan Studi Politik Kebudayaan di Daerah Riau Lingga: Perspektif Kajian Budaya”. Panggung Bangsawan adalah teater rakyat yang pada masa Orde Lama memiliki kekuatan ritual, lalu zaman Orde Baru hampir punah. Pemerintah Orde Baru merevitalisasi teater tersebut sebagai identitas budaya Melayu tetapi bukannya berkembang, melainkan malah surut. Tujuan penelitian ini: mendeskripsikan proses munculnya Panggung Bangsawan, menjelaskan peran negara terhadap Panggung Bangsawan, dan menganalisis makna politik kebudayaan dalam kaitannya dengan identitas budaya Melayu yang baru.Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif. Peneliti menggali budaya dalam konteksnya dengan dunia nyata dan perspektif pelaku masyarakat seni. Tahap pertama, dilakukan pengumpulan data primer dan sekunder. Tahap kedua, memilih teori untuk mengkaji data. Tahap ketiga, menganalisis dan menginterpretasikan data yang telah diseleksi. Tahap keempat, melakukan penulisan dan konstruksi hasil penelitian. Teori yang digunakan: estetika, hegemoni, semiotika, dan dekonstruksi.Hasil penelitian: Pertama, proses munculnya Panggung Bangsawan, realitasnya meliputi prapentas, peristiwa pentas, dan pascapentas. Pada masa prapentas dan pascapentas ini, muncul pertarungan wacana dengan berbagai kepentingan perorangan atau kelompok. Kedua, peran negara terhadap Panggung Bangsawan, menumbuhkan hegemonisasi. Hegemoni tersebut berdampak pada pergeseran isi cerita tentang kekuasaan. Pada zaman Orde Lama, sistem politik yang berlaku mengikuti pola mechanics of power, sedangkan zaman Orde Baru mengikuti pola poetics of power. Ketiga, makna politik kebudayaan dalam kaitannya dengan identitas budaya Melayu, bahwa setelah dilaksanakan Revitalisasi Budaya Melayu 2004, pemahaman alam Melayu bergeser, mulanya memiliki batasan yang mengeras, sekarang batasan itu mencair. Identitas budaya Melayu yang baru bukan berdasarkan pada konvensi agama tertentu, melainkan lebih pluralistik.
| Reference Key |
arybowo2012e-journalpanggung
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Sutamat Arybowo;Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A.;Dr. Pudentia MPSS, M.A.;Prof. Dr. I Made Suastika, M.A. |
| Journal | social science journal |
| Year | 2012 |
| DOI |
DOI not found
|
| URL | |
| Keywords |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.