filariasis dan beberapa faktor yang berhubungan dengan penularannya di desa pangku-tolole, kecamatan ampibabo, kabupaten parigi-moutong, provinsi sulawesi tengah
Clicks: 249
ID: 183266
2014
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Popular Article
30.0
/100
249 views
29 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
PopularRanked #6 of 13 articles by views in 2015 23rd signal processing and communications applications conference, siu 2015 - proceedings
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Sejak dilakukannya survey darah jari filariasis pada tahun 2004, Desa Pangku-Tolole telah ditetapkan sebagai
desa endemis filariasis. Namun demikian, sejak diketahui sebagai daerah endemis sampai kegiatan penelitian
ini dilakukan, informasi mengenai aspek penentu penularan filariasis dalam hubungannya dengan parasit,
vektor dan manusia di wilayah tersebut masih sangat terbatas. Studi ini dilakukan untuk mengetahui angka
prevalensi mikrofilaria penduduk pada saat penelitian dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
filariasis di desa tersebut. Penelitian ini termasuk dalam jenis observasional dengan rancangan crosssectional study, karena pengukuran faktor risiko dan efek diukur dalam waktu yang bersamaan. Kegiatan
yang dilakukan meliputi pengambilan darah jari penderita filariasis dan wawancara pengetahuan, sikap
dan perilaku masyarakat di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 207 warga dari total 700
penduduk yang diambil darahnya, sebanyak 28 warga diantaranya (13,53%) positif terinfeksi Brugia malayi.
Hasil tersebut menggambarkan bahwa Desa Pangku-Tolole merupakan desa endemis tinggi filariasis. Faktorfaktor individu menunjukkan hubungan dengan kejadian filariasis. Hasil analisis juga menunjukkan adanya
perbedaan signifikan antara warga yang menggunakan kelambu dan obat nyamuk bakar dalam hubungannya
dengan infeksi filariasis (r=0,199; p=0,038). Pengetahuan, sikap masyarakat mengenai perlindungan diri
terhadap infeksi filariasis dalam hubungannya perilaku masyarakat tidak menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan (r=0,231; p=0,585). Kebiasaan menginap di kebun yang dilakukan oleh 38,75% responden
nampaknya tidak menunjukkan hubungan terhadap kejadian filariasis. Namun berbeda dengan perilaku
yang sering dilakukan oleh 63,75% responden pada malam hari, yaitu mencari hiburan pada hampir setiap
malam di luar rumah, yang menunjukkan bahwa perilaku tersebut signifikan berhubungan dengan kejadian
filariasis(r=0,208; p=0,033).
Kata Kunci : Filariasis, Faktor penularan, Desa Pangku-tolole
desa endemis filariasis. Namun demikian, sejak diketahui sebagai daerah endemis sampai kegiatan penelitian
ini dilakukan, informasi mengenai aspek penentu penularan filariasis dalam hubungannya dengan parasit,
vektor dan manusia di wilayah tersebut masih sangat terbatas. Studi ini dilakukan untuk mengetahui angka
prevalensi mikrofilaria penduduk pada saat penelitian dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
filariasis di desa tersebut. Penelitian ini termasuk dalam jenis observasional dengan rancangan crosssectional study, karena pengukuran faktor risiko dan efek diukur dalam waktu yang bersamaan. Kegiatan
yang dilakukan meliputi pengambilan darah jari penderita filariasis dan wawancara pengetahuan, sikap
dan perilaku masyarakat di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 207 warga dari total 700
penduduk yang diambil darahnya, sebanyak 28 warga diantaranya (13,53%) positif terinfeksi Brugia malayi.
Hasil tersebut menggambarkan bahwa Desa Pangku-Tolole merupakan desa endemis tinggi filariasis. Faktorfaktor individu menunjukkan hubungan dengan kejadian filariasis. Hasil analisis juga menunjukkan adanya
perbedaan signifikan antara warga yang menggunakan kelambu dan obat nyamuk bakar dalam hubungannya
dengan infeksi filariasis (r=0,199; p=0,038). Pengetahuan, sikap masyarakat mengenai perlindungan diri
terhadap infeksi filariasis dalam hubungannya perilaku masyarakat tidak menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan (r=0,231; p=0,585). Kebiasaan menginap di kebun yang dilakukan oleh 38,75% responden
nampaknya tidak menunjukkan hubungan terhadap kejadian filariasis. Namun berbeda dengan perilaku
yang sering dilakukan oleh 63,75% responden pada malam hari, yaitu mencari hiburan pada hampir setiap
malam di luar rumah, yang menunjukkan bahwa perilaku tersebut signifikan berhubungan dengan kejadian
filariasis(r=0,208; p=0,033).
Kata Kunci : Filariasis, Faktor penularan, Desa Pangku-tolole
| Reference Key |
garjito2014vektorafilariasis
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Triwibowo Ambar Garjito;Jastal Jastal;Rosmini Rosmini;Hayani Anastasia;Yuyun Srikandi;Yudith Labatjo |
| Journal | 2015 23rd signal processing and communications applications conference, siu 2015 - proceedings |
| Year | 2014 |
| DOI |
DOI not found
|
| URL | |
| Keywords |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.