Clicks: 52
ID: 173877
2017
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This article has not been analysed, so there is no overall score — reader engagement is measured and shown alongside.
AI Quality Assessment
Not analyzed
Mint this article as an NFT
Not yet minted

Create a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.

5 SUSD one-off · no wallet required
Abstract
Aspek kebudayaan telah lama tidak menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Orientasi pembangunan nasional yang melulu pada pembangunan fisik (sarana dan prasarana), dan karenanya pendekatan yang digunakan pun sangat materialistis, telah menempatkan kebudayaan sebagai “anak tiri” pembangunan. Beberapa peristiwa politik nasional yang berkembang, mau tidak mau memaksa kita untuk kembali melihat kebudayaan dengan segala aspeknya, termasuk di dalamnya adalah penciptaan identitas kelompok yang semakin menguat. Ketika dahulu orang Indonesia berupaya untuk meleburkan diri dengan kelompok-kelompok arus utama (baik politik mapun budaya), saat ini orang menjadi semakin butuh untuk memiliki identitas yang berbeda dengan yang lain. Ketika sebelumnya menjadi liyan (orang lain) adalah sesuatu yang “tabu” dan senantiasa dihindari, saat ini orang Indonesia justru berusaha keras untuk menjadi apa yang disebut dengan liyan itu
Reference Key
amaruli2017jurnaleditorial Use this key to autocite in the manuscript while using SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
Authors ;Rabith Jihan Amaruli
Journal jurnal sejarah citra lekha
Year 2017
DOI
10.14710/jscl.v2i1.15054
URL
Keywords Keywords not found

Citations

No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org

No comments yet. Be the first to comment on this article.