pola tata laksana diare akut di beberapa rumah sakit swasta di jakarta; apakah sesuai dengan protokol who?
Clicks: 70
ID: 166604
2016
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Popular Article
20.7
/100
70 views
11 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
PopularRanked #61 of 159 articles by views in medical mycology
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale. Only the 120 most-read articles are drawn; the journal has 159 in total.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Pada umumnya penyakit diare akut bersifat self limiting disease sehingga seringkali
pasien tidak memerlukan pengobatan spesifik. Tata laksana diare akut dengan berbagai
derajat dehidrasi telah dibakukan oleh WHO.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai pola tata laksana diare akut di luar
rumah sakit institusi pendidikan.
Metoda: Penelitian deskriptif yang dilakukan secara retrospektif di tiga rumah sakit
swasta Jakarta sejak 1 Januari sampai 31 Maret 1999 pada 67 pasien diare akut yang
dirawat, berumur 0-24 bulan.
Hasil: Didapatkan 37 (55%) anak lelaki dan 30 (45%) anak perempuan menderita
diare akut, terdiri dari tanpa dehidrasi 6 (9%) anak, dehidrasi ringan-sedang 52 (78%)
anak, dan dehidrasi berat 9 (13%) anak. Proporsi rentang usia 0-6 bulan sebanyak 23
(34%) anak, >6-12 bulan 28 (42%), dan >12-24 bulan 16 (24%). Jumlah pasien diare
akut tanpa dan dengan dehidrasi ringan-sedang yang mendapat rehidrasi secara parenteral
sebanyak 51 (88%) anak dari 58 anak. Sedangkan sisanya menderita dehidrasi berat
diberi cairan rehidrasi parenteral yang dibagi dalam 24 jam. Pada keseluruhan pasien
rawat hanya 37 (55%) anak yang mendapat cairan rehidrasi oral (oralit/Pedialyte).
Penggunaan antibiotik didapatkan pada 55 (82%) anak dan anti diare pada 32 (48%)
anak. Pemberian ASI hanya didapatkan pada 41 (61%) anak, dan di antaranya pemberian
ASI dilanjutkan pada 36 (88%) anak, serta dihentikan pada 5 (12%) anak; sedangkan
26 (39%) anak sudah tidak mendapatkan ASI. Dari 51 anak yang menggunakan susu
formula, didapatkan pemberian susu formula khusus pada 47 (70%) anak dan
pengenceran susu formula pada 2 (3%) anak. Lama rawat rerata 3 hari, dengan kisaran
2 sampai 6 hari, dan 1 anak dirawat lebih dari 7 hari.
Kesimpulan: tata laksana diare akut di tiga rumah sakit swasta di Jakarta kurang sesuai
dengan panduan/protabel WHO, tampak dari hasil pemakaian CRO hanya pada 50%
pasien, antibiotik masih banyak dipakai (90%), dan pemakaian susu formula khusus
pada 70% anak. Sedangkan pemberian ASI diteruskan cukup baik, yaitu 88%.
| Reference Key |
dwipoerwantoro2016saripola
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Pramita G. Dwipoerwantoro;Badriul Hegar;Pustika A.W. Witjaksono |
| Journal | medical mycology |
| Year | 2016 |
| DOI |
10.14238/sp6.4.2005.182-7
|
| URL | |
| Keywords | Keywords not found |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.