pola kuman, sensitifitas antibiotik dan risiko kematian oleh kuman staphylococcus coagulase negatif pada sepsis neonatorum di rs dr moewardi surakarta
Clicks: 235
ID: 161143
2016
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Popular Article
30.0
/100
235 views
34 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
PopularRanked #13 of 171 articles by views in medical mycology
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale. Only the 120 most-read articles are drawn; the journal has 171 in total.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Latar belakang. Sepsis neonatorum merupakan penyebab kematian tertinggi pada
neonatus. Sebagai pedoman antibiotik yang akan diberikan diperlukan data pola kuman
secara berkala. Beberapa Negara telah melaporkan infeksi Staphylococcus coagulase
negative (CoNS) yang merupakan kuman komensal kulit, sebagai penyebab sepsis
neonatorum awitan lambat.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman dan jenis antibiotik
yang sensitif pada bayi sepsis yang dirawat di bangsal neonatus RS Dr. Moewardi
Surakarta dan risiko kematian oleh Staphylococcus coagulase negatif (CoNS).
Metoda. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data dari rekam
medis bayi yang dirawat di bangsal neonatus RS Dr. Moewardi (RSDM) Surakarta.
Data diambil dari bulan Desember 2004 sampai Desember 2005 dengan diagnosis sepsis,
didapatkan hasil kultur kuman positif.
Hasil. Didapatkan 49 data dengan kuman positif. Kuman penyebab sepsis didapatkan
berturut-turut Enterobacter sebagai penyebab terbanyak 42,9%, diikuti oleh
Staphylococcus dan Citrobacter masing-masing 18,4%, Streptococcus dan Serratia
6,1%, Pseudomonas dan Klebsiella 4,1%. Pada kelompok kuman Enterobacter
meropenem merupakan antibiotik dengan sensitifitas paling tinggi (73,7%) dan
sensitifitas terhadap sefepim 38,1%. Angka kematian secara keseluruhan 57,1%. Pada
kelompok kuman Enterobacter, Staphylococcus dan Citrobacter angka kematian
berturut-turut 57,1%, 33,3% dan 77,8%. Risiko kematian oleh kuman CoNS
dibandingkan dengan kuman gram negatif RR 5,5 dengan tingkat kepercayaan 95%
(0,97;31,45). Risiko kematian terhadap Staphylococcus aureus juga tidak berbeda
bermakna.
Kesimpulan. Kuman yang paling sering ditemukan pada bayi sepsis di bangsal neonatus
RSDM Surakarta adalah Enterobacter. Angka kematian masih tinggi 57,1% dan tidak
terdapat perbedaan bermakna pada risiko kematian CoNS dibandingkan dengan kuman
gram negatif dan Staphylococcus aureus.
| Reference Key |
h2016saripola
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Yulidar H;Sri Martuti;Sunyataningkamto Sunyataningkamto |
| Journal | medical mycology |
| Year | 2016 |
| DOI |
10.14238/sp8.2.2006.122-6
|
| URL | |
| Keywords |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.