manusia dan budaya jawa dalam roman bumi manusia: eksistensialisme pemikiran jean paul sartre

Clicks: 135
ID: 145603
2017
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This article has not been analysed, so there is no overall score — reader engagement is measured and shown alongside.
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
Steady

Ranked #4 of 11 articles by views in review of high pressure science and technology/koatsuryoku no kagaku to gijutsu

Most read Least read

Bar heights use a square-root scale.

Mint this article as an NFT
Not yet minted

Create a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.

5 SUSD one-off · no wallet required
Abstract
Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer mengisahkan peristiwa perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonial Belanda yang terjadi sekitar tahun 1899, akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Permasalahan yang menarik untuk diteliti dari Bumi Manusia meliputi (1) realitas budaya Jawa dan feodalisme, (2) wujud eksistensi tokoh Jawa sebagai manifestasi keberadaan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) realitas budaya Jawa dan feodalisme, (2) wujud eksistensi tokoh Jawa sebagai manifestasi keberadaan manusia dalam Bumi Manusia. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan teknik catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan hermeneutika dengan teknik naratif informal, dan menerapkan teori eksistensialisme. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kondisi masyarakat Jawa semasa abad ke-19 masih menggenggam erat feodalisme dan budaya Jawa tumbuh berdampingan dengan budaya Eropa. Sementara itu, eksistensialisme secara mutlak memberikan kebebasan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menentukan keinginan dan tindakannya sendiri. Eksistensi tokoh Jawa tercermin sebagai manifetasi keberadaan seorang kelas atas, manusia pencipta dirinya sendiri, bebas bertindak dan berpikir, memilih dan bertangung jawab, kecemasan dan ketakutan, serta pemberontakan. Dengan demikian, karya sastra—dalam konteks Bumi Manusia dan eksistensialisme—tidak boleh lepas dari eksistensinya sebagai ekspresi kejiwaan yang paling subjektif dan emosional, bahkan bisa dilengkapi dengan psikologi dan filsafat.
Reference Key
hardiningtyas2017aksaramanusia Use this key to autocite in the manuscript while using SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
Authors ;Puji Retno Hardiningtyas
Journal review of high pressure science and technology/koatsuryoku no kagaku to gijutsu
Year 2017
DOI
DOI not found
URL
Keywords Keywords not found

Citations

No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org

No comments yet. Be the first to comment on this article.