karakteristik keterlambatan bicara di klinik khusus tumbuh kembang rumah sakit anak dan bunda harapan kita tahun 2008 - 2009
Clicks: 86
ID: 142285
2016
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Popular Article
26.4
/100
86 views
22 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
PopularRanked #52 of 159 articles by views in medical mycology
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale. Only the 120 most-read articles are drawn; the journal has 159 in total.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Latar belakang. Keterlambatan berbicara dan berbahasa adalah masalah yang cukup umum pada anakanak
usia 2-5 tahun. Prevalensi dari keterlambatan berbicara dan berbahasa bervariasi antara 1%-32% pada
populasi normal, dipengaruhi berbagai faktor dan menurut metode yang digunakan untuk mendiagnosis.
Keterlambatan dalam gangguan perkembangan berbicara dapat merupakan gejala dari berbagai penyakit,
seperti keterbelakangan mental, gangguan pendengaran, gangguan bahasa ekspresif, autisme, selektif
mutisme, afasia reseptif dan cerebral palsy, dan penyakit lainnya. Gangguan berbicara mungkin sekunder
karena keterlambatan perkembangan atau disebabkan bilingualisme.
Tujuan. Mengetahui karakteristik keterlambatan bicara di Klinik Khusus Tumbuh Kembang (KKTB)
RSAB Harapan Kita, Jakarta.
Metode. Desain penelitian deskriptif retrospektif dari rekam medik pasien baru berusia 1-5 tahun yang
datang ke KKTK RSAB Harapan Kita pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2009.
Hasil. Terdapat 260 pasien baru dengan keterlambatan bicara di KKTK RSAB Harapan Kita, 116 (44,6%)
anak dengan diagnosis developmental dysphasia. Dijumpai 69,6% kasus, diagnosis ditegakkan pada usia
antara 13-36 bulan, dan lebih banyak anak laki laki 185 (71,2%) anak. Latar belakang pendidikan ibu
pasien 65,8% berpendidikan tinggi.
Kesimpulan. Keterlambatan bicara di KKTK sebagian besar adalah developmental dysphasia. Ibu pasien
membawa ke KKTK pada usia dini sehingga dapat ditindaklanjuti dan diterapi lebih cepat sehingga mendapat
luaran yang lebih baik.
| Reference Key |
dewanti2016sarikarakteristik
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Attila Dewanti;Joanne Angelica Widjaja;Anna Tjandrajani;Amril A Burhany |
| Journal | medical mycology |
| Year | 2016 |
| DOI |
10.14238/sp14.4.2012.230-4
|
| URL | |
| Keywords |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.