krisis barat modern menurut nasr
Clicks: 314
ID: 130704
2011
Article Quality & Performance Metrics
Overall Quality
Not rated
Combines reader engagement with the AI quality analysis. This
article has not been analysed, so there is no overall score —
reader engagement is measured and shown alongside.
Reader Engagement
Star Article
30.0
/100
314 views
58 readers
AI Quality Assessment
Not analyzed
Readership in this journal
StarRanked #1 of 2 articles by views in jurnal ushuluddin
Most read
Least read
Bar heights use a square-root scale.
Mint this article as an NFT
Not yet mintedCreate a permanent, verifiable on-chain record of this article on the Scimatic Network. The NFT is held in your Journament account, and you can withdraw it to your own wallet at any time.
5
SUSD
one-off · no wallet required
Abstract
Abad modern di Barat dimulai pada abad XVII, sekaligus merupakan awal kemenangan supremasi rasionalisme, empirisme dan posistivisme dari dogmadogma agama Ktisten. Abad modern di Barat adalah zaman ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Manusia dipandang sebagai makhluk yang bebas yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia modern di Barat sengaja membebaskan diri dari tatanan ilahiah untuk kemudian membangun suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada diri manusia, yang selanjutnya berakibat pada pemutusan nilai-nilai spritual. Modernisme di dunia Barat adalah bersifat anthropomorphisme yang menunjukkan kriteria dan instrumen pengetahuan bahwa yang menetapkan sains adalah semata-mata manusia. Dalam pandangan Sayyed Hossein Nasr ( selanjutnya disebut Nasr ), empirisme dan rasionalisme tidak dapat bertindak sebagai prinsip-prinsip dalam pengertian metafisika. Akibatnya pemikiran Barat modern tidak memiliki kepekaan terhadap yang sakral, mengingat humanisme modern tidak terpisahkan dari sekularisme. Untuk dapat menemukan kembali integritas manusia dan alam secara utuh, Nasr menekankan bahwa manusia harus berada pada titik pusat (Tuhan), mampu mengambil jarak dari kenyataan yang senantiasa berubah dan serba propan. Ringkasnya Nasr menghendaki agar manusia modern memikirkan kembali kehadiran Tuhan yang merupakan dasar suatu kebijakan hidup. Nasr dengan gagasan Islam tradisionalnya, tampaknya ingin mengajukan sebuah kebutuhan untuk menghidupkan kembali sains-sains tradisional dan kosmologis di tengah dunia modern, yang akan dapat memainkan peranan dalam membangkitkan kesadaran akan kesatuan sains dan pengetahuan spritual. Menghidupkan kembali sains tradisional, tidak berarti Nasr menolak metode eksprimen serta perangkatperangkat penelitian ilmiah modern yang telah terbukti sangat berhasil dalam sudi kuantitatif alam semesta. Tetapi Nasr menginginkan adanya perubahanperubahan fundamental dalam metode manusia modern terhadap realitas dan pengetahuan.
| Reference Key |
nur2011jurnalkrisis
Use this key to autocite in the manuscript while using
SciMatic Manuscript Manager or Thesis Manager
|
|---|---|
| Authors | ;Saleh Nur |
| Journal | jurnal ushuluddin |
| Year | 2011 |
| DOI |
DOI not found
|
| URL | |
| Keywords |
Citations
No citations found. To add a citation, contact the admin at info@scimatic.org
Comments
No comments yet. Be the first to comment on this article.